Sabtu, 08 Desember 2007
Sosok Seorang Guru
Guru lebih dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Seseorang yang mengajarkan berbagai ilmu kepada murid-muridnya. Mengajarkan dengan kesabaran dan keteguhan hati. Namun, semua itu sekarang sudah bisa menjadi kebalikannya. Guru lebih sering menambah masalah bagi murid-muridnya. Membuat semua muridnya tidak nyaman ketika mengikuti pelajaran. Serta memberikan tugas yang menumpuk hingga kebanyakan anak muridnya stress. Ada juga salah seorang guru yang omongannya tidak bisa dijaga, dan cenderung melecehkan anak muridnya. Kita jumpai pula seorang guru yang semustinya menyelesaikan masalah para muridnya, namun malah membuat masalah tersebut bertambah runyam. Dan ketika terjadi masalah antara dua orang murid pasti guru tersebut akan memihak kepada salah seorang murid yang ia yakini benar, walaupun tanpa bukti yang nyata. Akhirnya murid-murid pun merasa terpojokkan. Tidak ada lagi rasa kekaguman kepada guru. Dan mungkin saja cita-cita untuk menjadi guru sudah tidak lagi diidamkan oleh siswa-siswi di seluruh pelosok dunia. Hal ini sama saja dengan membuat tingkat kebodohan menjadi tinggi. Mengapa bisa begitu? Semua ini bisa saja terjadi jika jumlah guru menjadi sedikit, dikarenakan siswa-siswi zaman sekarang tidak mendapatkan contoh yang baik dari gurunya dan mengaggap kalau guru hanyalah penambah masalah bagi kehidupan saja. Seandainya gur-guru bisa memberikan teladan yang baik bagi muridnya, kemungkinan besar murid-murid pun memiliki minat untuk menjadi seorang guru. Karena mereka beranggapan bahwa guru adalah sosok seorang pahlawan yang patut untuk dikagumi. Sekarang ini diidamkan sosok seorang guru yang bisa jadi teladan bagi muridnya, bisa membantu muridnya yang sedang dalam masalah, dan yang paling utama adalah memberikan kesuksesan bagi muridnya dalam bidang pelajaran.
Jumat, 07 Desember 2007
The Funniest Friday(you must read this story)
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB, ini menandakan waktu Pendalaman Materi telah selesai. Gw langsung cepet-cepet ke Payung(salah satu tempat favorit anak Labschool setelah pulang sekolah), tujuan utamanya adalah mencari ketiga "teman seperjuangan" gw di ILP: Mpit, Gemma, Junte. Gw udah pusing nyariin mereka semua karena gak ketemu-ketemu, padahal kita semua harus berangkat cepet-cepet karena hari ini ada REVISION TEST(The Most Difficult Test), dan ILP masuk jam 17.00 WIB. Setelah mencari dan mencari, akhirnya gw nemuin juga salah satu teman yang gw harapkan segera datang(masalahnya ini anak suka jalan-jalan gak tau kemana), Mpit. Tapi kali ini secara tidak terduga dia bawa sebuah kardus Aqua yang isinya buku-buku paket+pianika punya dia. Gw udah stress ngeliatnya, karena sama aja dengan "penumpang" bajaj nya nambah satu lagi. Akhirnya gw bilang ke Mpit biar dia taruh tas nya di Payung dulu, sambil nungguin Gemma sama Junte. Gw ama dia mutusin buat jajan dulu. Gw gak jajan, si mpit doank yang jajan. Pas balik lagi ke Payung secara nggak sengaja Junte udah ada disitu. Akhirnya ketemu satu lagi deh. Gak berapa lama kemudian Gemma dateng. Gw seneng banget, berarti bisa cepet berangkat.Trus gw ama Mpit langsung ngambil tas kita, biar bisa cepet-cepet berangkat. Kita nyebrang lewat jembatan penyebrangan. Disini dimulailah cerita konyol kita berempat. Karena Junte takut lewat jembatan penyebrangan jadi dia teriak-teriak sambil megangin Mpit, padahal Mpit sendiri lagi sibuk ama kardus "sialan" Aqua nya itu. Akhirnya kedua orang itu jadi heboh sendiri. Gw ama Gemma berusaha ngebantuin mereka berdua biar gak heboh banget, masalahnya di belakang kita udah ada "traffic jam", orang-orang udah ngantri kayak bebek cuma buat ngelewatin kita. Gemma bantu bawain pianika Mpit yang berada di dalam kardus itu. Gw bantu berdiri di sebelah Junte, biar dia gak ngeliatin jalanan di bawah trus. Tapi tiba-tiba dia malah teriak-teriak(sambil megangin Mpit yang juga sibuk sendiri),"Aduh Mpit, itu mobilnya dibawah jalannya cepet banget". Mpit akhirnya ikut-ikutan heboh,"Aduh Jun, gw jadi ikut-ikutan takut nih". Kita semua berusaha secepat mungkin turun dari jembatan penyebrangan. Untuk menghindari tertawaan orang sekitar lebih tepatnya. Tapi semua kehebohan itu baru berakhir setelah kita sampai dengan "selamat" di pangkalan bajaj. Kita cepet-cepet naek bajaj, dan sesuai dengan perkiraan kardus"sialan" Aqua punya Mpit bikin susah kita naek bajaj. Ribet banget naek bajaj doank, 2 menitan cuma buat naek bajaj. Abang bajaj nya ampe bantuin kita ngurusin kardus" sialan" itu. 5 menit perjalanan berjalan seperti biasa. Tapi lama-kelamaan kita nyadar kalo kaki yang ketekuk udah gak tahan lagi. Masing-masing dari kita udah mulai teriak-teriakan. Kaki gw injek kaki Mpit. Junte yang mangku Mpit juga udah gak bisa bergerak apa-apa, tinggal pasrah doank. Gemma, udah kejepit dipinggir bajaj, tapi tetep masih ebuddy an. Sampe di depan Arion, bajaj nya udah ngepot-ngepot, udah kayak mau jomplang juga. Posisi duduknya Mpit juga udah gak bener. Udah merosot dari pangkuaanya Junte. Mulai teriak-teriakan lagi, sambil ketawa-ketawa. Lampu hijau nyala dan beruntungnya bajajnya jalan, tapi sayang sekali memang nasib tidak memihak akhirnya lampu merah lagi. Kita makin teriak-teriakan sambil ketawa-ketawa. Mana lollipop nya Mpit jatoh ke rok gw, situasi makin kacau. Kaki udah kayak mau lumpuh. Akhirnya bajaj jalan pas lampu nya udah hijau lagi(ya iyalah!). Pas mau muter balik(karena ke ILP musti muter balik), si Gemma nanya,"kalo ini kaki siapa nih?". Trus Junte ketawa-tawa,"Aduh, itu kaki gw geli..geli....hahaha". Ternyata kaki nya Junte yang dikelitikin Gemma, padahal gw yakini dia pengennya ngelitikin kakinya Mpit. Semuanya ketawa terbahak-bahak. Suasana makin kacau karena di depan ILP macet banget. Ditambah ada temennya Mpit yang naek bajaj juga ngeliatin ke arah bajaj kita sambil ngetawain kita. Makin lengkap penderitaannya. Udah sampe ILP, Kardus"sialan"Aqua nya Mpit bikin kita semua ampir gak bisa turun. Akhirnya dengan nekatnya kita semua bilang ke Mpit,"Udah lempar aja kardus lo.". Akhirnya dengan brutal gw ama Mpit ngelempar kardus yang berisi pianika dan buku jatoh secara mengenaskan di atas aspal. Kita udah bisa bernapas lega, karena bisa turun juga dari bajaj setelah ngelempar kardus"sialan" itu. Tapi gw baru sadar kalo tas kertas gw udah robek-robek gak karuan, dan gw yakini ini semua karena goncangan kita yang dahsyat sekali di bajaj. Sampe disitu juga, kita semua langsung ngeliatin luka-luka akibat sempit-sempitan bersama kardus"sialan" Aqua di bajaj. Kaki Mpit yang ampe merah-merah gara-gara di tekuk ke deket mesin bajaj, panas banget katanya. Kaki gw, Junte, Gemma udah kayak mati rasa. Pas masuk ke ILP kita semua gak berenti ketawa gara-gara semua kejadian itu. Suara ketawa kita membahana di ILP, padahal kita udah telat masuk kelas. Hahahahahahaha!
Kamis, 06 Desember 2007
Fashionista Gagal
Orang yang gila akan fashion sering disebut juga sebagai fashionista. Namun, belakangan ini ada beberapa orang yang menyalah artikan anggapan fashion para fashionista. Bermaksud untuk mengikuti gaya fashionista, malah lebih kelihatan sebagai "walking GoGirl!". Mengikuti gaya sebuah majalah remaja ternama"GoGirl!", membuat orang-orang menjadi pusing. Setiap majalah itu baru saja terbit, seakan-akan para remaja itu terbius dengan apa yang ada di majalah tersebut dan segera mengikuti gaya pakaian yang ada di dalamnya. Setiap kita berjalan-jalan di sebuah mall ternama di daerah Jakarta Selatan pasti kita akan melihat banyak sekali anak remaja yang memakai pakaian yang sama. Dan semua pakaian itu telah kita lihat di majalah remaja ternama tersebut. Pakaian yang sama, hanya beda warna saja membuat mereka lebih terlihat sebagai rombongan anak panti asuhan yang sengaja disamakan bajunya agar tidak hilang secara bodohnya dari penjaganya di sebuah mall yang baru pertama kali mereka kunjungi. Satu kata yang paling tepat adalah fashionista gagal!
Minggu, 25 November 2007
Stress Karena Banyak Tugas dan Ulangan
Stress karena banyak tugas dan ulangan, mungkin adalah kata yang tepat untuk mewakili perasaan dari saya dan teman-teman satu angkatan saya. Guru-guru tak henti-hentinya memberikan cobaan bagi kami, yang lebih tepatnya adalah tugas serta ulangan yang rumit. Cobaan berat yang kami hadapi dengan pasrah saja. Tidak ada pilihan lain, kami harus menerima segala "cobaan" yang diberikan itu tanpa memberikan perlawanan. Karena semua itu, terkadang ada anak-anak yang menitikkan air mata untuk meluapkan segala kebingungannya, tak jarang pula banyak diantara mereka yang jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran. Sebenanya pihak guru pun tidak bisa disalahkan juga, mereka sedang berusaha agar siswa-siswinya memperoleh hasil yang terbaik pada Ujian Nasional nanti. Terlebih lagi pelajarannya akan bertambah dan standart nilai pun akan semakin tinggi. Tetapi mereka juga tetap harus memikirkan kondisi fisik maupun mental para siswa nya. Jangan hanya memikirkan bagaimana kedepannya saja, namun juga bagaimana kesiapan dan kondisi mereka di saat sekarang. Faktanya, kebanyakan murid mengalami penurunan pada nilainya karena banyaknya tugas. Ada yang bilang, semangat belajar mereka menurun karena terlalu sering belajar dan terlalu sering mengerjakan tugas. Tanda tanya besar langsung berada di kepala. Tetapi inilah fakta yang harus diterima dengan pikiran jernih.
Sabtu, 24 November 2007
Jurnalis Indonesia
Perkembangan dunia pers dari tahun ke tahun semakin berkembang pesat. Kebebasan pers pun tidak dikekang, jurnalis bebas mengekspresikan semua hasil liputannya. Walaupun masih ada orang yang tidak menyukai apa yang diberitakan, dikarenakan terlalu memojokkan beberapa pihak. Sudah sangat banyak prestasi yang diraih oleh beberapa tokoh jurnalis di Indonesia. Seperti, Meutya Hafid yang berhasil mendapatkan penghargaan dari pihak kedutaan Australia atas dedikasinya yang tinggi terhadap bidang jurnalistik, dan masih banyak lagi. Berbagai laporan mereka pun banyak yang merubah pandangan masyarakat banyak. Laporan seorang jurnalis metro tv, Najwa Shihab yang ketika tsunami baru saja terjadi di Aceh menarik perhatian masyarakat. Ia menangis ketika melaporkan keadaan Aceh yang baru saja diterjang tsunami. Hasilnya, stasiun tv dimana ia bekerja berhasil mendapatkan bantuan sebesar lebih dari 16o miliar rupiah. Dan akhirnya ia pun berhasil mendapatkan penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) pusat, karena laporannya yang dinilai benar-benar membuat"Indonesia Menangis". Risiko pekerjaan jurnalis pun sangatlah banyak, dalam setiap tugas peliputan bisa saja nyawa mereka yang melayang. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kondisi di saat peliputan dapat aman terkendali. Bisa saja diserang ketika sedang meliput kerusuhan atau juga disandera ketika sedang meliput di daerah konflik. Pekerjaan yang tak mudah, membutuhkan orang-orang yang benar-benar berkualitas. Orang-orang yang menyukai tantangan dan siap menghadapi setiap rintangan yang menghadang. Demi mendapatkan berita yang ekslusif untuk masyarakat.
Antusiasme Band Sekolah
Di zaman sekarang ini, banyak sekali anak muda yang berlomba-lomba untuk membuat band sekolah yang terbaik. Mereka pun rela menghabiskan hampir separuh waktunya untuk memfokuskan diri pada band. Mereka pun muncul dengan berbagai aliran seperti, pop, rock&roll, metal, new wave, dll. Dan tentu saja mereka menyajikan musik yang memiliki tingkat musikalitas tinggi. Hampir bisa disamakan dengan band-band yang namanya sudah melanglang di tanah air. Tidak pernah main-main dengan kesuksesan grup yang mereka bentuk, mereka pun sering sekali mengikuti berbagai perlombaan, merekam setiap lagu mereka dengan dana sendiri dan menjual kepada teman-teman terdekat dengan harga miring, mengisi berbagai acara di tempat-tempat tertentu, dsb. Namun, sebagian kecil dari mereka memang sukses dalam bidang musik tetapi dalam pelajaran hasil yang mereka raih bisa dibilang tidak sebaik seperti apa yang mereka raih dalam bidang musik. Guru-guru pun kerap menegur mereka karena terlalu sibuk mengurus band mereka. Tapi mereka tetap berusaha membuat semuanya kembali menjadi baik dan tetap menjalankan keduanya secara seimbang. Musik yang mereka sajikan kebanyakan sangat mudah untuk dinikmati bagi orang-orang yang baru pertama kali mendengar permainan musik mereka. Tidak main-main, easy listening, serta lirik-lirik yang memiliki makna tersendiri bagi sang penciptanya atau bahkan pendengarnya sekalipun. Jangan pernah menganggap remeh band sekolah, karena mereka adalah penerus dunia musik tanah air.
Langganan:
Postingan (Atom)